Sample Text

selamat datang

Senin, 07 Oktober 2013

materi 3

pada pertemuan ini anda diarahkan untuk mempublikasi tulisan di blog.
1. siapkan tugas yang telah anda buat sebelumnya (dalam bentuk file Word) sebanyak 3 judul
2. silahkan klik  kotak "mengisi entri di blog" di bawah ini untuk mendowload.
3. buka hasil dowload lalu ikuti langkah-langkahnya.

mengisi entri di blog
atau klik ini
catatan: satu tugas untuk satu entri. jadi anda membuat tiga entri.




Bagi teman-teman yang belum juga membuat blog sebaiknya mengklik kotak di bawah ini untuk panduan pembuatan blog.

Panduan membuat blog
atau klik ini

Minggu, 06 Oktober 2013

Sampaikan kepada mahasiwa media jurnal bahwa perkuliahan  ke tiga dilaksanakan pada tanggal 8 Oktober 2013
Tempat  perkuliahan : AS NET (tempat hotspot di belakang perdos).


Pesyaratan : 1. membawa laptop dan pembayaran jasa login internet  Rp. 10.000/PC
                     2. membawa  ketiga tugas dalam bentuk file microsoft word

Mahasiswa dibagi dalam 3 gelombang.
Gelombang 1 dari no urut 1-35 mulai pukul 13.00
Gelombang 2 dari no urut 36-65 masuk pukul 14.15
Gelombang 3 dri no urut 65 dst mulai pukul 15.00


berikut pembagian nama-nama berdasarkan gelombang1, 2 dan 3
catatan: bagi yang  ingin pindah jadwal, disarankan untuk mencari teman yang ingin bertukaran lalu mengkonformasi (bisa melaui sms).
Gelombang1 Gelombang 2 Gelombang 3
 NASIR
SITTI ALWALIYAH
L.M. AKBAR
WA ODE UTARI
MASRUL BIRARIO
RAHMAN
SUCI WAHYU LESTARI
WA ODE NURJAMILY
ATINA
ASTI FEBRIANTI
YUNIAR APRILIYANTI
NUR MINA
RAMADHAN
JUSRIANI
RENA WAHYUNI
SURACHMIN MACHMUD
NUR FAINI
ANGRENI PURNAMA SARI
WA ODE SALMIANI NUR
SAKTIAR KASMIN
EKA SATRIANA
SAHWATI
DESWAL YAMIN
JECKLYN CHAHYADI
RENI JUSTIANINGSIH
RAHMAWATI
ABDU RAHMAN JAYADI
ELVIANA
SETYO BAGUS PAMBUDI
MUHAMMAD RIZAL
SARMIN
NURJANNAH
JUMIATI
CITRA SALDA YANTI
SANTRIASARI HADARUL



DELVIANA CING

ONJI MARNAZIRA
SITTI NUR ANISA
ADE LIANA
SITTI AMZAWIYAH
WA ODE MURNI ANA
LA ODE USMAN

ERISFRIDAYANI

ANTON

FAUZIAH
MUH. YUSMAN
MILAWATI
WA FATIMA
ARFAN
ASBIR

LA ODE RAHIM AL JATILA
JAFARUDIN
HENDRA KARLINA
TATI KASMIATI
RINIATI
MARWAN ABIDIN
SITI KHURAIYAH
SUPARMAN M.
WA ODE JUNIYASTIN
MEGAWATI
AL BADYIRUN
WA MARIANTI
RISTAYANA
LAODE MUHAMAMMAD JAIYUDIN
LINDAWATI
RACHMAN
YOLANDA NOFIANA
NINING SALVIA
SYAM SURIA WATI
AKHWATUL KHASANAH YUFRI
WA ODE MUSTIANI
SARTI
MUH. ALWI MIYLA
HARIS WUA
WA ODE NURLIA
LA ODE RAZAK FAMIN
DIANA SARAGOSA
ASEP ANUGRAH
SARIPA
ERNI
LA MUNA
ZULMIATI
NUR HIKMA
WA SERI
LA ATO
CHERLIANI
WISRA WATY WAHYUDDIN
MEGAWATI DESTI YS
RONAL DAKUKU
DITA AYU DHYAH NINGTYAS ANANDA
ABDUL MALIK SAFARUNI
MUHAMMAD FADLI S.
AZMA ADAM
MUH. HAMIDIN
NUZRAN KHAIRATUN HISAN
NENI SRI YUNINGSIH
NURWIJAYA
HESTI
MUH. SALMAN AL FARIS H.S.
ALIF RAMADHAN B.
MEGAWATI HASANUDDIN
WAODE MARNIA
RENDY
MUH. JAMAL K.

Rabu, 13 Juni 2012

Bahan Ajar Antropologi | UNIVERSITAS HALUOLEO

Bagi teman mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya Universitas Haluoleo yang belum memiliki file perkuliahan pada tanggal 13 Juni 2012 dari Prof. Dr. Nasrudin Suyuti, M.Si. Berikut silahkan klik dalam kotak untuk mendowload

DOWLOAD BAHAN AJAR ANTROPOLOGI

Selasa, 08 Mei 2012

PAMPLET CINTA


W.S. Rendra

    Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
    Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

    Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.
    Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
    Aku merindukan wajahmu,
    dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
    Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
    Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
    Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
    Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan
    Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat.
    Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan

    Suatu malam aku mandi di lautan.
    Sepi menjdai kaca.
    Bunga-bunga yang ajaib bermekaran di langit.
    Aku inginkan kamu, tapi kamu tidak ada.
    Sepi menjadi kaca.

    Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
    bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan ?
    Udara penuh rasa curiga.
    Tegur sapa tanpa jaminan.

    Air lautan berkilat-kilat.
    Suara lautan adalah suara kesepian.
    Dan lalu muncul wajahmu.

    Kamu menjadi makna
    Makna menjadi harapan.
    ……. Sebenarnya apakah harapan ?
    Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
    Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
    Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
    Aku tertawa, Ma !

    Angin menyapu rambutku.
    Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

    Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
    Pantatku karatan aku seret dari warung ke warung.
    Perutku sobek di jalan raya yang lengang…….
    Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
    Aku menulis sajak di bordes kereta api.
    Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

    Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
    aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.
    Lalu muncullah kamu,
    nongol dari perut matahari bunting,
    jam duabelas seperempat siang.
    Aku terkesima.
    Aku disergap kejadian tak terduga.
    Rahmat turun bagai hujan
    membuatku segar,
    tapi juga menggigil bertanya-tanya.
    Aku jadi bego, Ma !

    Yaaah , Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
    Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
    dan sedih karena kita sering berpisah.
    Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.
    Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih ?
    Bahagia karena  napas mengalir dan jantung berdetak.
    Sedih karena pikiran diliputi bayang-bayang.
    Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

    Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
    memandang wajahmu dari segenap jurusan.
    

  Pejambon, Jakarta, 28 April 1978
  Potret Pembangunan dalam Puisi

SAJAK KENALAN LAMAMU


W.S. Rendra



Kini kita saling berpandangan saudara.
Ragu-ragu apa pula,
kita memang pernah berjumpa.
Sambil berdiri di ambang pintu kereta api,
tergencet oleh penumpang berjubel,
Dari Yogya ke Jakarta,
aku melihat kamu tidur di kolong bangku,
dengan alas kertas koran,
sambil memeluk satu anakmu,
sementara istrimu meneteki bayinya,
terbaring di sebelahmu.
Pernah pula kita satu truk,
duduk di atas kobis-kobis berbau sampah,
sambil meremasi tetek tengkulak sayur,
dan lalu sama-sama kaget,
ketika truk tiba-tiba terhenti
kerna distop oleh polisi,
yang menarik pungutan tidak resmi.
Ya, saudara, kita sudah sering berjumpa,
kerna sama-sama anak jalan raya.
…………………............
Hidup macam apa ini !
Orang-orang dipindah kesana ke mari.
Bukan dari tujuan ke tujuan.
Tapi dari keadaan ke keadaan yang tanpa perubahan.
………….............
Kini kita bersandingan, saudara.
Kamu kenal bau bajuku.
Jangan kamu ragu-ragu,
kita memang pernah bertemu.
Waktu itu hujan rinai.
Aku menarik sehelai plastik dari tong sampah
tepat pada waktu kamu juga menariknya.
Kita saling berpandangan.
Kamu menggendong anak kecil di punggungmu.
Aku membuka mulut,
hendak berkata sesuatu……
Tak sempat !
Lebih dulu tinjumu melayang ke daguku…..
Dalam pandangan mata berkunang-kunang,
aku melihat kamu
membawa helaian plastik itu
ke satu gubuk karton.
Kamu lapiskan ke atap gubugmu,
dan lalu kamu masuk dengan anakmu…..
Sebungkus nasi yang dicuri,
itulah santapan.
Kolong kios buku di terminal
itulah peraduan.
Ya, saudara-saudara, kita sama-sama kenal ini,
karena kita anak jadah bangsa yang mulia.
…………..........
Hidup macam apa hidup ini.
Di taman yang gelap orang menjual badan,
agar mulutnya tersumpal makan.
Di hotel yang mewah istri guru menjual badan
agar pantatnya diganjal sedan.
……...........
Duabelas pasang payudara gemerlapan,
bertatahkan intan permata di sekitar putingnya.
Dan di bawah semuanya,
celana dalam sutera warna kesumba.
Ya, saudara,
Kita sama-sama tertawa mengenang ini semua.
Ragu-ragu apa pula
kita memang pernah berjumpa.
Kita telah menyaksikan,
betapa para pembesar
menjilati selangkang wanita,
sambil kepalanya diguyur anggur.
Ya, kita sama-sama germo,
yang menjahitkan jas di Singapura
mencat rambut di pangkuan bintang film,
main golf, main mahyong,
dan makan kepiting saus tiram di restoran terhormat.
…….....
Hidup dalam khayalan,
hidup dalam kenyataan……
tak ada bedanya.
Kerna khayalan dinyatakan,
dan kenyataan dikhayalkan,
di dalam peradaban fatamorgana.
……….
Ayo, jangan lagi sangsi,
kamu kenal suara batukku.
Kamu lihat lagi gayaku meludah di trotoar.
Ya, memang aku. Temanmu dulu.
Kita telah sama-sama mencuri mobil ayahmu
bergiliran meniduri gula-gulanya,
dan mengintip ibumu main serong
dengan ajudan ayahmu.
Kita telah sama-sama beli morphin dari guru kita.
Menenggak valium yang disediakan oleh dokter untuk ibumu,
dan akhirnya menggeletak di emper tiko,
di samping kere di Malioboro.
Kita alami semua ini,
kerna kita putra-putra dewa di dalam masyarakat kita.
…..
Hidup melayang-layang.
Selangit,
melayang-layang.
Kekuasaan mendukung kita serupa ganja…..
meninggi…. Ke awan……
Peraturan dan hukuman,
kitalah yang empunya.
Kita tulis dengan keringat di ketiak,
di atas sol sepatu kita.
Kitalah gelandangan kaya,
yang perlu meyakinkan diri
dengan pembunuhan.
…........
Saudara-saudara, kita sekarang berjabatan.
Kini kita bertemu lagi.
Ya, jangan kamu ragu-ragu,
kita memang pernah bertemu.
Bukankah tadi telah kamu kenal
betapa derap langkahku ?

Kita dulu pernah menyetop lalu lintas,
membakari mobil-mobil,
melambaikan poster-poster,
dan berderap maju, berdemonstrasi.
Kita telah sama-sama merancang strategi
di panti pijit dan restoran.
Dengan arloji emas,
secara teliti kita susun jadwal waktu.
Bergadang, berunding di larut kelam,
sambil mendekap hostess di kelab malam.
Kerna begitulah gaya pemuda harapan bangsa.

Politik adalah cara merampok dunia.
Politk adalah cara menggulingkan kekuasaan,
untuk menikmati giliran berkuasa.
Politik adalah tangga naiknya tingkat kehidupan.
dari becak ke taksi, dari taksi ke sedan pribadi
lalu ke mobil sport, lalu : helikopter !
Politik adalah festival dan pekan olah raga.
Politik adalah wadah kegiatan kesenian.
Dan bila ada orang banyak bacot,
kita cap ia sok pahlawan.
…..........................
Dimanakah kunang-kunag di malam hari ?
Dimanakah trompah kayu di muka pintu ?
Di hari-hari yang berat,
aku cari kacamataku,
dan tidak ketemu.
……............

Ya, inilah aku ini !
Jangan lagi sangsi !
Inilah bau ketiakku.
Inilah suara batukku.
Kamu telah menjamahku,
jangan lagi kamu ragau.

Kita telah sama-sama berdiri di sini,
melihat bianglala berubah menjadi lidah-lidah api,
gunung yang kelabu membara,
kapal terbang pribadi di antara mega-mega meneteskan air mani
di putar blue-film di dalamnya.
…………………

Kekayaan melimpah.
Kemiskinan melimpah.
Darah melimpah.
Ludah menyembur dan melimpah.
Waktu melanda dan melimpah.
Lalu muncullah banjir suara.
Suara-suara di kolong meja.
Suara-suara di dalam lacu.
Suara-suara di dalam pici.
Dan akhirnya
dunia terbakar oleh tatawarna,
Warna-warna nilon dan plastik.
Warna-warna seribu warna.
Tidak luntur semuanya.
Ya, kita telah sama-sama menjadi saksi
dari suatu kejadian,
yang kita tidak tahu apa-apa,
namun lahir dari perbuatan kita.
 

Yogyakarta, 21 Juni 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi