Sample Text

selamat datang

Selasa, 08 Mei 2012

PAMPLET CINTA


W.S. Rendra

    Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
    Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

    Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.
    Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
    Aku merindukan wajahmu,
    dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
    Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
    Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
    Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
    Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan
    Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat.
    Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan

    Suatu malam aku mandi di lautan.
    Sepi menjdai kaca.
    Bunga-bunga yang ajaib bermekaran di langit.
    Aku inginkan kamu, tapi kamu tidak ada.
    Sepi menjadi kaca.

    Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
    bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan ?
    Udara penuh rasa curiga.
    Tegur sapa tanpa jaminan.

    Air lautan berkilat-kilat.
    Suara lautan adalah suara kesepian.
    Dan lalu muncul wajahmu.

    Kamu menjadi makna
    Makna menjadi harapan.
    ……. Sebenarnya apakah harapan ?
    Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
    Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
    Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
    Aku tertawa, Ma !

    Angin menyapu rambutku.
    Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

    Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
    Pantatku karatan aku seret dari warung ke warung.
    Perutku sobek di jalan raya yang lengang…….
    Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
    Aku menulis sajak di bordes kereta api.
    Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

    Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
    aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.
    Lalu muncullah kamu,
    nongol dari perut matahari bunting,
    jam duabelas seperempat siang.
    Aku terkesima.
    Aku disergap kejadian tak terduga.
    Rahmat turun bagai hujan
    membuatku segar,
    tapi juga menggigil bertanya-tanya.
    Aku jadi bego, Ma !

    Yaaah , Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
    Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
    dan sedih karena kita sering berpisah.
    Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.
    Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih ?
    Bahagia karena  napas mengalir dan jantung berdetak.
    Sedih karena pikiran diliputi bayang-bayang.
    Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

    Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
    memandang wajahmu dari segenap jurusan.
    

  Pejambon, Jakarta, 28 April 1978
  Potret Pembangunan dalam Puisi

SAJAK KENALAN LAMAMU


W.S. Rendra



Kini kita saling berpandangan saudara.
Ragu-ragu apa pula,
kita memang pernah berjumpa.
Sambil berdiri di ambang pintu kereta api,
tergencet oleh penumpang berjubel,
Dari Yogya ke Jakarta,
aku melihat kamu tidur di kolong bangku,
dengan alas kertas koran,
sambil memeluk satu anakmu,
sementara istrimu meneteki bayinya,
terbaring di sebelahmu.
Pernah pula kita satu truk,
duduk di atas kobis-kobis berbau sampah,
sambil meremasi tetek tengkulak sayur,
dan lalu sama-sama kaget,
ketika truk tiba-tiba terhenti
kerna distop oleh polisi,
yang menarik pungutan tidak resmi.
Ya, saudara, kita sudah sering berjumpa,
kerna sama-sama anak jalan raya.
…………………............
Hidup macam apa ini !
Orang-orang dipindah kesana ke mari.
Bukan dari tujuan ke tujuan.
Tapi dari keadaan ke keadaan yang tanpa perubahan.
………….............
Kini kita bersandingan, saudara.
Kamu kenal bau bajuku.
Jangan kamu ragu-ragu,
kita memang pernah bertemu.
Waktu itu hujan rinai.
Aku menarik sehelai plastik dari tong sampah
tepat pada waktu kamu juga menariknya.
Kita saling berpandangan.
Kamu menggendong anak kecil di punggungmu.
Aku membuka mulut,
hendak berkata sesuatu……
Tak sempat !
Lebih dulu tinjumu melayang ke daguku…..
Dalam pandangan mata berkunang-kunang,
aku melihat kamu
membawa helaian plastik itu
ke satu gubuk karton.
Kamu lapiskan ke atap gubugmu,
dan lalu kamu masuk dengan anakmu…..
Sebungkus nasi yang dicuri,
itulah santapan.
Kolong kios buku di terminal
itulah peraduan.
Ya, saudara-saudara, kita sama-sama kenal ini,
karena kita anak jadah bangsa yang mulia.
…………..........
Hidup macam apa hidup ini.
Di taman yang gelap orang menjual badan,
agar mulutnya tersumpal makan.
Di hotel yang mewah istri guru menjual badan
agar pantatnya diganjal sedan.
……...........
Duabelas pasang payudara gemerlapan,
bertatahkan intan permata di sekitar putingnya.
Dan di bawah semuanya,
celana dalam sutera warna kesumba.
Ya, saudara,
Kita sama-sama tertawa mengenang ini semua.
Ragu-ragu apa pula
kita memang pernah berjumpa.
Kita telah menyaksikan,
betapa para pembesar
menjilati selangkang wanita,
sambil kepalanya diguyur anggur.
Ya, kita sama-sama germo,
yang menjahitkan jas di Singapura
mencat rambut di pangkuan bintang film,
main golf, main mahyong,
dan makan kepiting saus tiram di restoran terhormat.
…….....
Hidup dalam khayalan,
hidup dalam kenyataan……
tak ada bedanya.
Kerna khayalan dinyatakan,
dan kenyataan dikhayalkan,
di dalam peradaban fatamorgana.
……….
Ayo, jangan lagi sangsi,
kamu kenal suara batukku.
Kamu lihat lagi gayaku meludah di trotoar.
Ya, memang aku. Temanmu dulu.
Kita telah sama-sama mencuri mobil ayahmu
bergiliran meniduri gula-gulanya,
dan mengintip ibumu main serong
dengan ajudan ayahmu.
Kita telah sama-sama beli morphin dari guru kita.
Menenggak valium yang disediakan oleh dokter untuk ibumu,
dan akhirnya menggeletak di emper tiko,
di samping kere di Malioboro.
Kita alami semua ini,
kerna kita putra-putra dewa di dalam masyarakat kita.
…..
Hidup melayang-layang.
Selangit,
melayang-layang.
Kekuasaan mendukung kita serupa ganja…..
meninggi…. Ke awan……
Peraturan dan hukuman,
kitalah yang empunya.
Kita tulis dengan keringat di ketiak,
di atas sol sepatu kita.
Kitalah gelandangan kaya,
yang perlu meyakinkan diri
dengan pembunuhan.
…........
Saudara-saudara, kita sekarang berjabatan.
Kini kita bertemu lagi.
Ya, jangan kamu ragu-ragu,
kita memang pernah bertemu.
Bukankah tadi telah kamu kenal
betapa derap langkahku ?

Kita dulu pernah menyetop lalu lintas,
membakari mobil-mobil,
melambaikan poster-poster,
dan berderap maju, berdemonstrasi.
Kita telah sama-sama merancang strategi
di panti pijit dan restoran.
Dengan arloji emas,
secara teliti kita susun jadwal waktu.
Bergadang, berunding di larut kelam,
sambil mendekap hostess di kelab malam.
Kerna begitulah gaya pemuda harapan bangsa.

Politik adalah cara merampok dunia.
Politk adalah cara menggulingkan kekuasaan,
untuk menikmati giliran berkuasa.
Politik adalah tangga naiknya tingkat kehidupan.
dari becak ke taksi, dari taksi ke sedan pribadi
lalu ke mobil sport, lalu : helikopter !
Politik adalah festival dan pekan olah raga.
Politik adalah wadah kegiatan kesenian.
Dan bila ada orang banyak bacot,
kita cap ia sok pahlawan.
…..........................
Dimanakah kunang-kunag di malam hari ?
Dimanakah trompah kayu di muka pintu ?
Di hari-hari yang berat,
aku cari kacamataku,
dan tidak ketemu.
……............

Ya, inilah aku ini !
Jangan lagi sangsi !
Inilah bau ketiakku.
Inilah suara batukku.
Kamu telah menjamahku,
jangan lagi kamu ragau.

Kita telah sama-sama berdiri di sini,
melihat bianglala berubah menjadi lidah-lidah api,
gunung yang kelabu membara,
kapal terbang pribadi di antara mega-mega meneteskan air mani
di putar blue-film di dalamnya.
…………………

Kekayaan melimpah.
Kemiskinan melimpah.
Darah melimpah.
Ludah menyembur dan melimpah.
Waktu melanda dan melimpah.
Lalu muncullah banjir suara.
Suara-suara di kolong meja.
Suara-suara di dalam lacu.
Suara-suara di dalam pici.
Dan akhirnya
dunia terbakar oleh tatawarna,
Warna-warna nilon dan plastik.
Warna-warna seribu warna.
Tidak luntur semuanya.
Ya, kita telah sama-sama menjadi saksi
dari suatu kejadian,
yang kita tidak tahu apa-apa,
namun lahir dari perbuatan kita.
 

Yogyakarta, 21 Juni 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi